Senin, 03 November 2014
ANTARA AKU, IBU, DAN SAUDARA KEMBARKU
Huh... aku menghela napas panjang, siang ini terasa sangat panas sekali. Kebetulan hari ini hari Sabtu, jadi aku bisa memanjakan diri beristirahat di rumah. Aku merasa bosan karena tidak ada kegiatan yang aku lakukan, kulihat acara tv juga tidak ada yang menarik. Maka kuputuskan diriku untuk melihat album-album foto yang ada di laci meja. Satu-persatu foto kupandangi, melihat foto-foto masa kecilku membuatku terhibur. Saat sedang asyik melihat-lihat, tiba-tiba ada satu foto yang membuatku merenung. Ada dua bocah perempuan disana. Mereka adalah aku dan Iis, saudara kembarku. Di foto itu aku terlihat akrab sekali dengannya. Tapi sayang, dia tidak tinggal bersamaku, dia tinggal di kampung bersama seorang ibu yang kupanggil Bi Ida.
“Neng, kok ngelamun aja? Ada masalah? Cerita aja sama mama”. Ucap mama mengagetkan yang ternyata dari tadi sedang memperhatikanku.
“Oh, engga mah. Ibi cuma bingung aja.”
“Bingung kenapa?”
“Ibi pengen tanya sama mamah, tapi janji ya mama jangan marah.”
“Tanya apa, iya mama gak marah kok.”
“Ma, sebenernya Iis itu anak mama apa anaknya Bi Ida ?”
“Kok kamu nanya nya gitu sih?”
“Engga mah, Ibi cuma bingung aja. Mama itu kalo gak ketemu Teh Mesti seminggu aja udah telponan lama banget, tapi kok kalo gak ketemu Iis setahun, mama gak pernah telponan sama Iis.”
Teh Mesti adalah kakakku yang kini telah tinggal dengan suaminya di Bandung.
Setelah aku menanyakan hal itu, kulihat mama hanya diam dan matanya tampak berkaca-kaca. Aku merasa bersalah menanyakan hal itu.
“Ma, kenapa? Ibi salah ya nanyain itu? Maafin Ibi ya ma.”
“Engga, Ibi gak salah kok. Ibi udah siap mama ceritain yang sebenarnya?” mama yang semula menunduk kini menegakkan kepalanya sambil menggenggam tanganku erat. Kulihat setetes air bening jatuh dari kelopak matanya.
“Cerita apa ma? InsyaAllah Ibi siap.”
“Jadi, enambelas tahun yang lalu Ibi dan Iis dilahirkan normal dari rahim seorang ibu, dia adalah Bi Icih. Jadi, Bi Icih yang selama ini kamu anggap bibi, sebenarnya adalah ibu kandungmu sendiri. Sedangkan mama yang selama ini kamu anggap ibumu, sebenarnya adalah bibimu yang mengasuhmu dari umur kamu tujuh hari sampai sekarang. Sebenarnya ibu kandungmu sangat sedih untuk melepaskan Ibi dan Iis kepada orang lain, tapi ia harus melakukan itu karena pada saat itu kamu dan Iis mempunyai seorang kakak yang umurnya hanya tigabelas bulan dari Ibi dan Iis, gak mungkin kan kalau ibumu mengurus tiga-tiganya ? pasti ibumu sangat kerepotan. Makanya pada saat itu nenekmu menyarankan ibumu untuk menitipkan kamu dan Iis untuk diasuh dengan orang lain. Nenekmu memercayakan mama dan bapak untuk mengurusmu, sedangkan Iis diasuh oleh Bi Ida, dan ibumu sendiri mengurus kakakmu. Nenekmu menyuruh untuk merahasiakan ini dan mama baru boleh mengatakan hal ini jika kamu sudah besar. Karena mama rasa kamu sudah cukup besar untuk mengerti hal ini, makanya mama baru kasih tau sekarang. Tapi mama sudah menganggap Ibi sebagai anak kandung mama sendiri.”
Mama menceritakan riwayat hidupku dan Iis yang sebenarnya. Kulihat mama tampak bersedih tapi disatu sisi mama terlihat lega seperti telah menyelesaikan masalah. Aku merenung kembali dan kini giliranku untuk menangis, tak terasa air mataku jatuh membasahi pipi. Aku membayangkan rasa sakit ibu kandungku yang harus menerima takdir seperti ini, aku salut dengannya karena ia begitu tegar menghadapi semua ini.
“Kenapa ? pasti Ibi sedih ya tau hal ini ? Ibi yang sabar aja, karena ini bukan kemauan ibu kandung Ibi, bukan juga kemauan nenek, tapi Allah menakdirkan ini untuk kita semua. Ibi jangan salahkan takdir Allah. Ambillah hikmah dibalik ini semua ya sayang.”
“Ya ma, Ibi udah ikhlas nerima hal ini.”
“Tapi Ibi harus lebih sayang sama Bi Icih, yaitu ibu yang melahirkan Ibi. Dengan adanya takdir seperti ini Ibi harus bersyukur karena Ibi adalah anak kembar dan Ibi mempunyai empat oang tua yang sangat menyayangi Ibi.”
“Iya ma, makasih udah mau merawat Ibi sampai sekarang. Ibi minta maaf kalau Ibi selalu buat mama sedih.”
“Ya sayang.”
Mama memeluk erat tubuhku. Aku merasa hangatnya kasih sayang mama walaupun mama hanya orang tua angkatku. Kini aku berfikir bahwa takdir Allah tak pernah salah, aku bahagia walaupun aku harus terpisah dari ibu dan Iis. Aku berharap suatu saat nanti aku dapat berkumpul bersama ibu kandungku dan Iis layaknya sebuah keluarga yang utuh.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar